Menanti Jejak Hilal di Awal Bulan
Selasa, 10 Agustus 2010 | 15:52 WIB
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Wakil Ketua Tim Hisab Rukyat Jawa Tengah Slamet Hambali melihat matahari dengan menggunakan teropong dalam rangka penentuan rukyat hilal awal Ramadhan tahun ini di Menara Al-Husna, Masjid Agung Jawa Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (20/8). Karena kemarin hilal belum terlihat, rukyat akan dilakukan kembali hari ini.
KOMPAS.com – Umat Islam menjadikan penampakan hilal sebagai awal masuknya bulan dalam penanggalan Hijriah. Meski setiap bulan terlihat, hilal di Bulan Ramadhan dan Syawal paling sering dibicarakan karena terkait dimulainya puasa dan lebaran Idul Fitri. Nampak tidaknya hilal sering membuat perbedaan awal dimulainya puasa dan lebaran di kalangan umat Islam. Sebab, ada yang berpandangan perhitungan hisab saja sudah cukup untuk menentukan awal bulan, namun ada yang tetap berpandangan bahwa hilal harus terlihat.
Melihat hilal memang bukan hal yang gampang karena hanya nampak sesaat berbentuk bulan sabit yang sangat tipis di ufuk barat setelah Matahari terbenam. Belum lagi apabila arah pandang tertutup lapisan awan tebal. Namun, dengan adanya teropong dan teleskop yang disebar di berbagai lokasi, pengamatan hilal terbantu. Apalagi dengan bantuan software astronomi untuk memperkirakan posisi penampakan hilal. Kegiatan rukyatul hilal pun menjadi semakin akurat.
Pada dasarnya hilal atau bulan baru merupakan bagian dari perjalanan rotasi Bulan mengelilingi Matahari dan sistem tata surya. Posisi Bulan terhadap Bumi dan Matahari yang menjadikan bentuk bulan yang terlihat dari Bumi berubah-ubah dari hari ke hari mengalami siklus antara sabit dan purnama. Cahaya Bulan yang terlihat dari Bumi itu merupakan pantulan cahaya Matahari sesuai posisinya terhadap Bumi dan Matahari.
Nah, kombinasi rotasi Bumi, perputaran Bulan terhadap Bumi, dan perputaran Bumi terhadap Matahari membuat di akhir bulan seperti saat ini, Bulan dan Matahari seolah-olah bergerak bersama dari timur ke barat dengan posisi yang berdekatan jika dilihat dari Bumi. Inilah peristiwa yang disebut konjungsi geosentrik atau ijtima’.
Menurut perhitungan Badan Meteorologi Klimatologi dan geofisika (BMKG), pada Selasa (10/8/2010), pukul 10.08 WIB, Matahari dan Bulan akan berada di bujur ekliptika yang sama. Namun, karena tidak tepat sejajar, peristiwa tersebut tidak sampai menimbulkan gerhana bulan. Juga jangan harap melihat Bulan di siang bolong saat ini karena tidak ada cahaya yang dipantulkan Matahari di permukaan Bulan ke Bumi.
Matahari akan terbenam di wilayah Indonesia paling awal terjadi pada pukul 17.38 WIT di Merauke dan paling akhir pada pukul 18.54 WIB di Sabang. Sementara Bulan menyusul beberapa menit kemudian. Saat Matahari terbenam itulah, pantulan cahaya di permukaan Bulan akan terlihat dari Bumi.
Petang nanti, ketinggian hilal 0 derajat melewati daerah Samudra Pasifik bagian Barat Daya, Asia Tenggara bagian Utara, Asia Selatan bagian Utara, Asia Barat bagian
tengah, daerah Laut Tengah, Eropa bagian Barat Laut, Samudra Atlantik bagian Utara, Amerika Serikat bagian Utara dan Samudra Pasifik Timur Laut. Secara sederhana, garis ketinggian Hilal 0 derajat ini dapat dianggap sebagai garis batas tanggal qomariah.
Daerah yang berada di sebelah barat dan bagian selatan kawasan tersebut dimungkinkan untuk memulai awal Ramadhan 1431 H pada tanggal 11 Agustus 2010 mengingat hilal masih berada di atas horison saat matahari terbenam tanggal 10 Agustus 2010. Adapun daerah di sebelah timur dan utara garis ketinggian hilal 0 derajat ini belum akan memulai awal Ramadhan 1431 H pada tanggal 11 Agustus 2010. Hal ini karena saat Matahari terbenam tanggal 10 Agustus 2010, hilal sudah di bawah Horison. Namun demikian, dalam praktiknya penentuan awal Ramadhan 1431 H bergantung kepada kebijakan masingmasing negara.
Ketinggian hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 10 Agustus 2010 berkisar antara 0,44 derajat sampai dengan 2,05 derajat. Daerah dengan ketinggian hilal lebih
dari 2 derajat hanyalah daerah Jawa Barat dan Banten bagian Selatan serta sebagian kecil Lampung bagian Selatan. Selebihnya, ketinggian hilalnya kurang dari 2 derajat. Makin besar derajatnya, makin besar kemungkinan terlihat hilal. Tentu tergantung kondisi langit saat itu.
Namun dengan memperhitungkan efek refraksi atmosfer Bumi dan semi diameter Bulan, ketinggian hilal dari horison teramati di Indonesia saat Matahari terbenam pada 10 Agustus 2010 berkisar antara 0,93 derajat sampai dengan 2,30 derajat. Adapun daerah dengan ketinggian hilal lebih dari 2 derajat adalah seluruh Jawa kecuali Jawa Timur bagian Utara dan sedikit Jawa Tengah bagian Timur Laut, seluruh Lampung dan Bengkulu, sebagian besar Sumatera Selatan bagian Selatan, Jambi dan Sumatera Barat bagian Selatan. Selain itu, ketinggian Hilalnya kurang dari 2 derajat.
Munculnya hilal pun sangat cepat karena bulan akan segera tenggelam di ufuk barat. Berdasarkan perhitungan BMKG, selisih antara waktu terbenam Bulan dan Matahari di Indonesia berkisar antara 5,48 menit sampai dengan 12,33 menit dengan asumsi pengamat di permukaan laut. Nah, kalau ada kesempatan melihat hilal nanti, kenapa tidak dicoba.
Sumber KOMPAS.COM
Incoming search terms:
- Cara melihat hilal
- Cara membuat kompas sederhana
- perbedaan waktu antar negara
- cara membuat kompas
- KALENDER TAHUN 1973
- kalender islam tahun 1975
- cara pasang teleskop pantul
- teropong bumi sederhana
- rukyat hilal masjid agung
- Posisi Matahari dan Bulan ketika ijtima











