Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate MarketingDownload GRATIS PDF dan 3 Video Kaya dari Properti TANPA MODAL Cafe Bisnis Online
Search Results Keyword: ‘hisab dan rukyat’

Dari Hilal, Bulan, ke Kebesaran Semesta

No comments March 31st, 2011

clip_image001

Ilustrasi. NINOK LEKSONO


Puasa demi puasa, Lebaran demi Lebaran, satu hal yang terus mengiringi adalah penetapan bulan baru, yang didasarkan oleh penglihatan (rukyat) atau penghitungan (hisab). Keduanya melambangkan kecerdasan manusia, dan karena itu sama-sama berkahnya, tidak perlu dipertentangkan.

Kedua metode juga diterima sebagai mazhab dalam ilmu astronomi, yang mempelajari langit dan serba isinya. Ada yang mempelajari semesta secara observasi, dengan teleskop yang makin lama makin canggih; tetapi juga ada yang mendapatkan pengetahuan tentang kosmos dengan kekuatan abstraksi yang didukung oleh ilmu matematika yang amat hebat.
Tentu, tentang Bumi dan Bulan, masih banyak yang dapat kita kaji, khususnya menyangkut masa depan hubungan Bumi-Bulan. Apakah akan terus berlangsung seperti yang kita lihat sekarang? Ahli tata surya (misalnya seperti yang berdiskusi di situs Astroprof’s) menyebut beberapa skenario.

Seiring dengan teori evolusi bintang yang menyebut Matahari akan mengembang menjadi bintang raksasa merah, maka Bumi-Bulan akan melayang di sekitar pinggir atmosfer Matahari. Bisa jadi Bumi tertarik oleh Matahari dan Bumi pun tamat riwayatnya.

Sebaliknya, kalau Bulan lebih terkena pengaruh tarikan Matahari, ia akan secara spiral mendekati Bumi dan gravitasi Bumi akan membuatnya pecah. Tetapi juga ada kemungkinan saat itu—boleh jadi mulai 1,5 miliar tahun ke depan—Matahari sudah mengecil sehingga gravitasinya ikut mengecil. Bumi-Bulan pun mungkin lepas dari pengaruh Matahari.
Satu fakta lain yang sudah diketahui sejauh ini adalah Bulan semakin menjauh dari Bumi, hingga dalam kurun satu miliar tahun lagi—semoga masih ada manusia yang sempat menyaksikannya—boleh jadi Bulan sudah tampak lebih kecil dan saat itu tidak ada lagi gerhana matahari.

Dalam kaitan ini pula, sejumlah ilmuwan berpendapat, dunia yang kita kenal sejauh ini, dengan semua pemandangan alam yang kita kenal baik, mungkin tidak ada bila tak ada Bulan, seperti yang kita kenal selama ini, tentu juga dengan jarak yang ada sekarang ini (sekitar 385.000 km).

Continue reading…

Incoming search terms:

  • 1 abad berapa tahun
  • pengaruh gravitasi bumi
  • 1 kurun berapa tahun
  • hilal bulan
  • jam dunia
  • satu abad berapa tahun
  • 1 tahun berapa jam
  • berapa tahun kurun
  • bintang di alam lain

Menanti Jejak Hilal di Awal Bulan

No comments January 17th, 2011

 

Selasa, 10 Agustus 2010 | 15:52 WIB

clip_image002

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Wakil Ketua Tim Hisab Rukyat Jawa Tengah Slamet Hambali melihat matahari dengan menggunakan teropong dalam rangka penentuan rukyat hilal awal Ramadhan tahun ini di Menara Al-Husna, Masjid Agung Jawa Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (20/8). Karena kemarin hilal belum terlihat, rukyat akan dilakukan kembali hari ini.

KOMPAS.com – Umat Islam menjadikan penampakan hilal sebagai awal masuknya bulan dalam penanggalan Hijriah. Meski setiap bulan terlihat, hilal di Bulan Ramadhan dan Syawal paling sering dibicarakan karena terkait dimulainya puasa dan lebaran Idul Fitri. Nampak tidaknya hilal sering membuat perbedaan awal dimulainya puasa dan lebaran di kalangan umat Islam. Sebab, ada yang berpandangan perhitungan hisab saja sudah cukup untuk menentukan awal bulan, namun ada yang tetap berpandangan bahwa hilal harus terlihat.
Melihat hilal memang bukan hal yang gampang karena hanya nampak sesaat berbentuk bulan sabit yang sangat tipis di ufuk barat setelah Matahari terbenam. Belum lagi apabila arah pandang tertutup lapisan awan tebal. Namun, dengan adanya teropong dan teleskop yang disebar di berbagai lokasi, pengamatan hilal terbantu. Apalagi dengan bantuan software astronomi untuk memperkirakan posisi penampakan hilal. Kegiatan rukyatul hilal pun menjadi semakin akurat.
Pada dasarnya hilal atau bulan baru merupakan bagian dari perjalanan rotasi Bulan mengelilingi Matahari dan sistem tata surya. Posisi Bulan terhadap Bumi dan Matahari yang menjadikan bentuk bulan yang terlihat dari Bumi berubah-ubah dari hari ke hari mengalami siklus antara sabit dan purnama. Cahaya Bulan yang terlihat dari Bumi itu merupakan pantulan cahaya Matahari sesuai posisinya terhadap Bumi dan Matahari.
Nah, kombinasi rotasi Bumi, perputaran Bulan terhadap Bumi, dan perputaran Bumi terhadap Matahari membuat di akhir bulan seperti saat ini, Bulan dan Matahari seolah-olah bergerak bersama dari timur ke barat dengan posisi yang berdekatan jika dilihat dari Bumi. Inilah peristiwa yang disebut konjungsi geosentrik atau ijtima’.
Menurut perhitungan Badan Meteorologi Klimatologi dan geofisika (BMKG), pada Selasa (10/8/2010), pukul 10.08 WIB, Matahari dan Bulan akan berada di bujur ekliptika yang sama. Namun, karena tidak tepat sejajar, peristiwa tersebut tidak sampai menimbulkan gerhana bulan. Juga jangan harap melihat Bulan di siang bolong saat ini karena tidak ada cahaya yang dipantulkan Matahari di permukaan Bulan ke Bumi.
Matahari akan terbenam di wilayah Indonesia paling awal terjadi pada pukul 17.38 WIT di Merauke dan paling akhir pada pukul 18.54 WIB di Sabang. Sementara Bulan menyusul beberapa menit kemudian. Saat Matahari terbenam itulah, pantulan cahaya di permukaan Bulan akan terlihat dari Bumi.
Petang nanti, ketinggian hilal 0 derajat melewati daerah Samudra Pasifik bagian Barat Daya, Asia Tenggara bagian Utara, Asia Selatan bagian Utara, Asia Barat bagian
tengah, daerah Laut Tengah, Eropa bagian Barat Laut, Samudra Atlantik bagian Utara, Amerika Serikat bagian Utara dan Samudra Pasifik Timur Laut. Secara sederhana, garis ketinggian Hilal 0 derajat ini dapat dianggap sebagai garis batas tanggal qomariah.
Daerah yang berada di sebelah barat dan bagian selatan kawasan tersebut dimungkinkan untuk memulai awal Ramadhan 1431 H pada tanggal 11 Agustus 2010 mengingat hilal masih berada di atas horison saat matahari terbenam tanggal 10 Agustus 2010. Adapun daerah di sebelah timur dan utara garis ketinggian hilal 0 derajat ini belum akan memulai awal Ramadhan 1431 H pada tanggal 11 Agustus 2010. Hal ini karena saat Matahari terbenam tanggal 10 Agustus 2010, hilal sudah di bawah Horison. Namun demikian, dalam praktiknya penentuan awal Ramadhan 1431 H bergantung kepada kebijakan masingmasing negara.
Ketinggian hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 10 Agustus 2010 berkisar antara 0,44 derajat sampai dengan 2,05 derajat. Daerah dengan ketinggian hilal lebih
dari 2 derajat hanyalah daerah Jawa Barat dan Banten bagian Selatan serta sebagian kecil Lampung bagian Selatan. Selebihnya, ketinggian hilalnya kurang dari 2 derajat. Makin besar derajatnya, makin besar kemungkinan terlihat hilal. Tentu tergantung kondisi langit saat itu.
Namun dengan memperhitungkan efek refraksi atmosfer Bumi dan semi diameter Bulan, ketinggian hilal dari horison teramati di Indonesia saat Matahari terbenam pada 10 Agustus 2010 berkisar antara 0,93 derajat sampai dengan 2,30 derajat. Adapun daerah dengan ketinggian hilal lebih dari 2 derajat adalah seluruh Jawa kecuali Jawa Timur bagian Utara dan sedikit Jawa Tengah bagian Timur Laut, seluruh Lampung dan Bengkulu, sebagian besar Sumatera Selatan bagian Selatan, Jambi dan Sumatera Barat bagian Selatan. Selain itu, ketinggian Hilalnya kurang dari 2 derajat.
Munculnya hilal pun sangat cepat karena bulan akan segera tenggelam di ufuk barat. Berdasarkan perhitungan BMKG, selisih antara waktu terbenam Bulan dan Matahari di Indonesia berkisar antara 5,48 menit sampai dengan 12,33 menit dengan asumsi pengamat di permukaan laut. Nah, kalau ada kesempatan melihat hilal nanti, kenapa tidak dicoba.

 

Sumber KOMPAS.COM

Incoming search terms:

  • Cara melihat hilal
  • Cara membuat kompas sederhana
  • perbedaan waktu antar negara
  • cara membuat kompas
  • KALENDER TAHUN 1973
  • kalender islam tahun 1975
  • cara pasang teleskop pantul
  • teropong bumi sederhana
  • rukyat hilal masjid agung
  • Posisi Matahari dan Bulan ketika ijtima

Penanggalan Kalender Bulan Vs Matahari

No comments January 3rd, 2011

 

 

Rabu, 11 Agustus 2010 | 09:58 WIB

clip_image001

Kalender matahari dan bulan

Oleh M Zaid Wahyudi

Dari tahun ke tahun, awal bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri selalu maju rata-rata 11 hari dari tahun sebelumnya. Tahun 2009, awal Ramadhan jatuh tanggal 22 Agustus dan Ramadhan tahun ini dimulai 11 Agustus. Tahun depan, 1 Ramadhan diperkirakan bertepatan dengan tanggal 1 Agustus.

Sistem penanggalan pada kalender Hijriah didasarkan pada perubahan fase Bulan, dari bulan penampakan hilal atau bulan sabit tipis ke hilal berikutnya. Satu periode hilal sama dengan satu periode sinodis Bulan, lamanya 29,5306 hari.

Berbeda dari kalender Masehi yang digunakan di seluruh dunia untuk kepentingan administrasi, kalender Bulan umumnya digunakan untuk keperluan ritual agama dan tradisi. Kedua kalender, satu tahun sama-sama terdiri dari 12 bulan. Satu tahun Hijriah memiliki 12 periode sinodis Bulan atau 354,366 hari. Dibulatkan jadi 354 hari atau 355 hari untuk tahun kabisat.

Kalender Masehi didasarkan atas peredaran Bumi mengelilingi Matahari dari satu titik tertentu yang disebut solstis atau equinox kembali ke titik itu. Lama perjalanan Bumi mengelilingi Matahari 365,2422 hari—disebut satu tahun tropis, dibulatkan menjadi 365 hari atau 366 hari untuk tahun kabisat.

Perbedaan jumlah hari dalam satu tahun Hijriah dan Masehi menyebabkan pelaksanaan ibadah Ramadhan, perayaan Idul Fitri, dan Idul Adha selalu maju 10-12 hari dari tahun sebelumnya. Selisih 10 hari lebih maju terjadi jika tahun kalender Hijriah adalah tahun kabisat dan tahun Masehi-nya adalah tahun biasa atau tahun basit (pendek). Sedangkan selisih maju 12 hari terjadi jika tahun Hijriah-nya tahun biasa dan tahun Masehi-nya termasuk tahun kabisat.

Sederhana

Menurut peneliti Observatorium Bosscha dan pengajar Sistem Kalender pada Program Pascasarjana Astronomi Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (9/8), sistem penanggalan Bulan banyak dipakai karena konsisten dan teratur. Fase Bulan terjadi berulang: bulan baru-bulan sabit muda-bulan separuh awal-bulan purnama-bulan separuh akhir-bulan sabit tua-bulan mati dan kembali ke bulan baru secara periodik. ”Perubahan wajah Bulan secara teratur di langit malam itu dicatat nenek moyang kita dan terciptalah penanggalan Bulan,” katanya.

Sistem penanggalan memakai Bulan sebagai acuan disebut penanggalan Bulan (lunar/qamariyah). Kalender Jepang juga menggunakan periodisitas penampakan Bulan.

Penanggalan yang menggunakan Matahari sebagai patokan, yaitu kalender Masehi atau kalender Kristiani atau penanggalan Matahari (Solar/Syamsiyah). Sedangkan kalender China dan Yahudi memadukan sistem penanggalan Matahari dan Bulan secara bersama-sama atau menggunakan sistem penanggalan Matahari-Bulan (Luni-Solar).

Kalender Bulan lebih sederhana dibandingkan kalender Matahari. Sebelum ditetapkan sebagai kalender Hijriah, masyarakat Arab dan umat Islam di masa Nabi Muhammad telah menggunakan sistem ini, tetapi belum dibakukan.

Baru pada masa Khalifah Umar bin Khattab, sistem penanggalan itu dibakukan. Titik awal yang dipakai adalah masa hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah, bertepatan dengan tahun 622 Masehi. Karena itu, tahun kalender Islam disebut tahun Hijriah.

Kalender Masehi

Kalender Masehi dikembangkan dari sistem kalender Julian pada masa Julius Caesar—tahun 45 sebelum Masehi. Dalam kalender ini, satu tahun tepat 365,25 hari, dibulatkan menjadi 365 hari. Empat tahun sekali jumlah hari menjadi 366 hari—disebut tahun kabisat.

Maju satu hari

Namun, panjang satu tahun tropis sebenarnya adalah 365,2422 hari. Akibatnya, setiap 128 tahun kalender Julian maju satu hari dari seharusnya. Hal itu berakibat pada mundurnya waktu Paskah. Sesuai ketentuan, Paskah jatuh hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama sesudah Matahari ada di titik vernal equinox—titik musim semi—pada 21 Maret.

Untuk mengatasi itu, titik musim semi harus dikembalikan agar tepat pada 21 Maret. Maka, perlu dilakukan pengurangan hari pada kalender Masehi. Pada 1582 dilakukanlah koreksi. Dengan mengacu ke Konsili Nicaea yang menetapkan titik musim semi pada 21 Maret 325, maka untuk mengembalikan 21 Maret 1582 tepat pada titik musim semi, jumlah hari pada tahun itu harus dipangkas 10 hari. Akibatnya, sesudah tanggal 4 Oktober 1582 langsung melompat ke tanggal 15 Oktober 1582. Artinya, tanggal 5-14 Oktober 1582 tidak pernah ada.

Koreksi juga dilakukan terhadap panjang satu tahun tropis kalender Julian. Perbaikan itu diajukan ahli fisika asal Naples, Aloysius Lilius, dengan menggunakan panjang satu periode tahun tropis adalah 365,2425 hari.

Perbaikan juga dilakukan pada tahun kabisat, yaitu tahun yang habis dibagi empat dan tahun yang habis dibagi 400. Tetapi, tahun yang habis dibagi 100 tidak disebut tahun kabisat.

Sistem ini diadopsi Paus Gregorius XIII. Karena itulah sistem penanggalan itu disebut sebagai sistem kalender Gregorian—yang kini paling banyak digunakan untuk kepentingan administrasi publik di seluruh dunia hingga kini.

Bisa disatukan

Guru Besar Riset Bidang Astronomi dan Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, yang juga anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama, Thomas Djamaluddin mengatakan, sebuah sistem kalender akan bisa diterima publik jika memenuhi tiga faktor, yaitu kriteria yang digunakan dalam penanggalan, wilayah keberlakuan kalender, serta ada otoritas yang menetapkan kalender tersebut.

Di Indonesia, faktor wilayah sudah disepakati dan pihak yang berwenang adalah Kementerian Agama. Namun, kriteria awal bulan masih berbeda antara pendapat Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan pemerintah.

Muhammadiyah memakai kriteria wujudul hilal, NU menggunakan kriteria tinggi hilal minimal dua derajat di atas ufuk, sedangkan Kementerian Agama menggunakan kriteria MABIMS, yaitu ketinggian hilal minimal 2 derajat, jarak Matahari dan Bulan minimal 3 derajat, dan umur hilal minimal 8 jam.

”Metode hisab dan rukyat sebenarnya bisa digabungkan,” tegasnya. Dia mengusulkan Kriteria hisab-rukyat Indonesia, yaitu hilal dapat teramati jika ketinggian minimum hilal 4 derajat dan jarak minimal Bulan dari Matahari adalah 6,4 derajat.

Kriteria itu didapat berdasar data hisab dan rukyat Indonesia dan internasional yang dipadukan dengan pengamatan astronomi—selama ini hilal sulit diamati jika di bawah 4 derajat dan jaraknya terlalu dekat dengan Matahari. Kriteria usulan itu sudah memasukkan kemungkinan cahaya hilal yang redup yang bisa kalah oleh hamburan sinar matahari di atmosfer bumi.

Sumber KOMPAS.COM

Incoming search terms:

  • tahun hijriah bulan
  • penanggalan menurut kalender yahudi
  • teropong Gregorian
  • penanggalan tahun hijriah
  • penanggalan kalender hijriah
  • penanggalan kalender
  • memaknai bulan purnama
  • kalender penampakan bulan di bulan maret 2012
  • nama fasa-fasa bulan
  • tahun penanggalan kalender
Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing Cafe Bisnis Online Download GRATIS PDF dan 3 Video Kaya dari Properti TANPA MODAL